Kemarin saya membaca status Facebook Mbak Anazkia dan ikut mengomentari. Dan saya mengambil garis besar hasil percakapan maya tersebut dengan mengutip sana sini. Isinya kira-kira begini :

“Kita tidak harus menunggu pemerintah untuk bertindak. Jika kita mampu, sekecil apapun usaha itu pasti akan membawa perubahan. Dengan mengumpulkan buku, paling tidak kami menunjukkan bahwa kami sangat peduli dengan pendidikan generasi penerus bangsa ini. Setiap orang punya cara berbeda mengkritik pemerintah, ada yang berkoar-koar dengan kritiknya di media massa, tapi kami mengkritik dengan cara kami sendiri, kami menunjukkan kerja nyata, tak hanya balutan kata-kata. Biarlah kami menampar muka pemerintah dengan Blogger Hibah Sejuta Buku.”

Saya angkat topi kepada Mbak Anazkia dan teman-teman Blogger yang rela meluangkan waktu, tenaga, materi serta pikiran untuk menyalurkan bantuan buku ke daerah-daerah yang kurang beruntung. Dengar-dengar kali ini merupakan proyek mereka yang ketiga. Setelah Papua sekarang ganti ke Maluku.

Hal ini mengingatkan saya kepada seorang ibu yang mengajak kedua anak balitanya menjadi sukarelawan penggalangan dana yang saya lihat beberapa minggu yang lalu. Waktu itu saya sedang berbelanja pagi hari sekitar pukul 09.00 pagi. Dari kejauhan saya lihat seorang anak laki-laki membawa beberapa lembar kertas bertempelkan stiker dan tas warna hijau yang tergantung melintang di pundaknya. Saya taksir umurnya sekitar 4 tahun. Di sampingnya terlihat ibunya dan adik perempuannya yang kira-kira berusia 2 tahun.

 

Si kecil yang pemberani itu dengan cekatan dan suara lantang bilang begini, ” Emkoy, pong ngo mai gei a” (Tolong beli bendera i.e. stiker ini). Tanpa malu-malu dia menghampiri kerumunan pejalan kaki yang lewat di depannya dan menawarkan stiker-stikernya.

Mungkin Anda sekalian bertanya-tanya untuk apa stiker-stiker itu. Stiker-stiker itu diberikan kepada orang yang sudah mendonasikan uangnya, sebagai tanda kalau dia sudah beramal. Besaran nilainya tidak ditentukan, seikhlasnya. Uang sekecil 1 atau 2 dollar pun diterima dengan senyum sumringah.

Di Hong Kong memang ada penggalangan dana yang dijadwalkan setiap hari Rabu dan Sabtu. Orang sini menyebutnya Mai Ge , makna harfiahnya menjual bendera. Menurut cerita, dulu pejalan kaki yang rela menyisihkan uangnya untuk donasi memang diberi sebuah bendera kecil sebagai tanda, tapi lama-lama bendera diganti dengan stiker yang ongkos pembuatannya lebih murah dan tidak memakan tempat.

Contoh Stiker

Biasanya anak-anak sekolah usia SMP yang aktif menjadi sukarelawan penggalangan dana. Tiap minggu penggalang dananya berbeda-beda, mungkin sudah diatur jadwalnya, tiap lembaga amal punya waktu sendiri-sendiri. Yang saya tahu, uang penggalangan dana digunakan untuk membiayai kegiatan amal lembaga-lembaga amal swasta yang terdaftar di Hong Kong. Ada yang mengurusi orang-orang jompo, orang difabel, anak-anak muda yang masuk rehabilitasi baik karena narkoba ataupun mereka yang keluar dari penjara anak-anak.

Ada juga lembaga amal yang mempunyai   food bank , tugasnya menyediakan bahan-bahan makanan untuk orang-orang yang tidak mampu, juga para orang tua yang harus mengurus diri sendiri. Subsidi dari pemerintah Hong Kong tidaklah banyak, makanya mereka perlu mengadakan penggalangan dana untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional pengadaan bahan-bahan pangan untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung.

Tentu saja pemasukan mereka tidak hanya bergantung pada penggalangan dana tiap hari Sabtu, selain itu mereka punya donatur tetap karena jumlah permintaan bantuan yang harus mereka penuhi cenderung meningkat dari hari ke hari.

Kembali kepada program Hibah Buku para Blogger, saya melihat kecenderungan yang sama dengan acara penggalangan dana rutin di Hong Kong, people power. Bahwasanya yang sedikit tidak boleh diremehkan, sekecil apapun pengaruh yang para Blogger hasilkan tetap akan membawa perubahan. Bukankah gelombang berasal dari riak kecil?

Andaikan semangat ini ditularkan kepada setiap warganegara Indonesia dari Sabang sampai Merauke, saya yakin Indonesia akan bangkit. Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama, punya sedikit dibagi sedikit, dibagi sama rata dan bergotong-royong. Tak usahlah berharap terlalu banyak dari pemerintah karena banyak yang harus mereka urusi, kalau kita mampu kenapa tidak kita bergerak sendiri seperti para Blogger yang inspiratif itu.

Jangan dilihat besar kecilnya jumlah yang mereka berikan, tapi tirulah semangat perubahan yang mereka perjuangkan.

NB : Karena saya diprotes ybs (sorry Mbak Anazkia) dan teman-temannya maka saya ingin klarifikasi tentang quote di paragraf kedua yang saya bold kalau itu hanya rangkuman isi percakapan kami berdasarkan persepsi saya pribadi dan BUKAN status Mbak Anazkia, statusnya sendiri sebenarnya sudah dihapus karena menimbulkan polemik antar teman sendiri. Nah, untuk meluruskan hal tersebut maka saya lampirkan status asli dari ybs, sebagai berikut :

“Ketika ada yang bertanya, “Untuk apa berlelah-lelah mengumpulkan buku, bukannya sudah ada pemerintah?” Aku hanya mampu mengedikan bahu, kemudian bertanya soalan.

Kita punya kapasitas masing-masing, yang mampu mengkritik pemerintah, silakan mengkritik. lantas, kami yang tak mampu mengkritik pemerintah, biarlah kami “mengkritik” dengan cara kami.”

Tujuan saya menuliskan ini bukan bermaksud menomorduakan perjuangan teman-teman lewat kritikan di media massa maupun blog serta unjuk rasa, saya hanya ingin menyampaikan bahwa beberapa orang punya cara tersendiri untuk “mengkritik”, salah satunya dengan kegiatan yang dilakukan para teman Blogger tersebut.

Terimakasih atas kritik yang diberikan kepada saya atas tulisan ini dan saya berharap, catatan ini dapat mengklarifikasi maksud sesungguhnya dari tulisan saya.

Salam.

Disalin dari jurnalnya Mbak Dwi

Written by Hibah Buku

@HibahBuku | #HibahBuku adalah gerakan solidaritas pengumpulan buku lalu menyalurkannya kepada sadara-saudari kita di Nusantara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *