Seringkali dalam postingan saya singgung tentang progam “memulung sampah” yang dilakukan oleh adik-adik saya di pencinta alam. Mengumpulkan berbagai macam sampah anorganik macam botol plastik dan segala jenisnya. Memanfaatkan sesuatu yang oleh sebagian orang disebut “barang tak berharga” ini agar bernilai komersil, yang hasilnya kami jadikan sebagai pelumas agar roda-roda organisasi kami senantiasa terus berjalan.

Salah satu “barang primadona” yang menjadi obyek “memulung” kami adalah kertas. Selain memiliki nilai profit tinggi dan jauh dari kesan kekotoran. Mengumpulkan kertas bekas juga menjadi sebuah ajang aplikasi kami tentang pentingnya sebuah konservasi dalam kehidupan sehari-hari. Yah, ketimbang kita makin hari sibuk membabati pohon demi pohon karena kebutuhan kertas yang semakin meningkat. Alangkah bijaknya jika kita mendaur ulang kertas-kertas tak terpakai itu menjadi kertas yang baru kembali.

Musim perburuan kertas mencapai puncaknya saat berakhirnya tahun ajaran bagi siswa. Banyak kertas yang bisa kami kumpulkan dari orang-orang yang rela rumah atau kantornya kami cuci gudang. Untuk kertas-kertas yang sudah dianggap tak bisa lagi digunakan, kami pisahkan untuk segera disetor ke timbangan tukang loakan.. Lantas bagaimana dengan kertas atau buku yang masih layak untuk dimanfaatkan secara wajar?.

Awalnya  kertas atau buku-buku itu kamu perlakukan sama seperti halnya kertas bekas biasa. Kami pilah sesuai jenis kelas harga perkilonya. Namun lambat laun kami berpikir, betapa eman rasanya jika kertas atau buku-buku itu harus mengakhiri nasib di wadah timbangan tukang loakan. Akhirnya kami pun bernisiatif untuk memisahkan kertas-kertas bekas  yang masih layak pakai itu untuk kami sumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Memilah buku-buku paket pelajaran yang masih bisa digunakan. Merangkai lembar demi lembar buku tulis yang masih kosong dan memberinya sampul agar bisa dipergunakan kembali.

Di ranah blogsphere ada sebuah kegiatan yang hampir sama, tapi lebih hebat dari apa yang kami lakukan di pencinta alam. Blogger Hibah Sejuta Buku, sebuah kegiatan sosial dari dulur-dulur blogger yang secara sukarela mengumpulkan buku-buku bekas yang masih layak pakai untuk dihibahkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Sebenarnya kegiatan ini sudah memasuki fase yang ketiga. Fase pertama dan kedua, pengiriman buku telah dilakukan di Kabupaten Meranti, Riau dan Papua. Untuk fase ketiga giliran Maluku yang akan menjadi targetnya. Hibah buku akan dilakukan ke sebuah sekolah dasar di Seram Utara.

Dari artikel yang saya baca DISINI, SD YPPK Manusela, Seram Utara  adalah sekolah dasar  yang memiliki 60 murid dengan enam ruangan ala kadar. Diisi oleh tiga orang tenaga pengajar, tapi hanya satu guru bernama Yuli Lilihata, yang aktif disitu. Sebuah SD dengan sarana yang sarat keterbatasan, tapi ada  semangat belajar yang tinggi dari anak-anak bangsa disitu yang harus kita perhatikan.

Rela bertelanjang kaki saat menempuh ke tempat studi. Menulis pelajaran dengan media kertas yang lebih layak disebut sebagai bungkus kacang. Pulpen tanpa body, pensil yang hanya seukuran ibu jari.

“Oh Manusela..Manusela, layakkah kalian menjadi  bagian dari pertiwi yang kaya raya ini?. Padahal kalian sudah sangat lantang menyanyikan lagu kebangsaan. Tapi kenapa kalian seolah-olah telah dilupakan?.  Kuyakin kalian  sudah hafal diluar kepala tentang apa itu Indonesia Raya, Bhineka Tunggal Ika dan juga apa itu Pancasila. Tapi, kenapa jurang kesenjangan itu kian nampak menganga?.”

Rasanya kita tak perlu lagi menunggu-nunggu pemerintah untuk segera turun tangan. Mari kita lakukan apa yang bisa kita berikan untuk mereka. Mungkin lewat BHSB kita bisa sedikit meringankan segala kekurangan yang dialami anak-anak bangsa yang ada di Manusela. Tak perlu kita sibuk mencari  mana yang salah dan siapa yang harus disalahkan. Bocah-bocah Manusela telah memberi perenungan pada kita semua,  jika Sang Khalik memang benar-benar Maha Kreatif.  Banyak hal yang bisa kita lakukan menuju ke arah kebaikan. Banyak jalan menuju Roma, banyak cara juga yang bisa kita lakukan untuk Manusela. Yah, walaupun hanya lewat sebuah buku bekas, saya rasa semua itu sudah cukup membuat mereka tertawa lepas.

Dulur blogger, mungkin sebuah novel atau buku adalah sesuatu yang mudah bagi kita untuk membelinya. Kadang kita rela merogoh kocek secara berlebihan demi memborong buku saat ada obral besar-besaran. Dan seringkali pula saat hasrat itu terpenuhi, kita pun mengonggokkan buku-buku itu karena telah puas membacanya.

Bekas bagi kita, tapi sangat berharga bagi mereka. Jadi kenapa kita tak memberi kesempatan saudara-saudara kita untuk ikut juga merasakan apa yang sudah kita nikmati?. Yah, ketimbang buku-buku itu kita museumkan di gudang  penuh rayap yang siap memangsa lembar demi lembarnya satu persatu. Atau kita loakkan yang ujung-ujungnya harus berakhir di tangan penjual kacang tepi jalan. Apakah tidak sebaiknya jika buku-buku itu kita hibahkan untuk mereka yang sangat membutuhkan?.

Monggo dulur-dulur  jika berkenan, berikan bocah-bocah Manusela sebuah senyuman lewat buku-buku bekas yang masih layak untuk dipergunakan. Buku tulis, buku paket pelajaran, buku cerita/novel anak, peralatan alat tulis. Atau  sumbangan berupa materi yang juga sangat diharapkan, mengingat biaya pengiriman yang juga memakan biaya yang sangat besar.



Batas pengumpulan buku adalah sejak awal februari 2012 sampai akhir april 2012.
Untuk bertanya dan hal lainnya, silahkan bergabung di facebook grup Blogger Hibah Sejuta Buku

Disalin dari jurnalnya Mas Lozz Akbar

Written by Hibah Buku

@HibahBuku | #HibahBuku adalah gerakan solidaritas pengumpulan buku lalu menyalurkannya kepada sadara-saudari kita di Nusantara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *