Hari minggu siang, meski Jakarta dan sekitarnya terus diguyur hujan hingga malam, namun rencana Kopdaran Kopdaran antar Kompasianer yang digagas Bang Erik (Kimi Raikko) tetap berlangsung.  Sejak pukul 13 siang, kafe Soto Sulung di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) mulai didatangi kawan Kompasianer.

Babeh Helmi, Pak Dian Kelana, Pak Nur Aliem, Pak Julianto Simanjuntak, Bang Erik, Ibu Tytiek, Mbak Sita, Om Jay, Zuragan Qripik, Bang Joko, Mbak Sumarti Saelan, Pak Arief, Bang Herman Hasyim, Bang Hazmi Srondol, Mbak Anita dan suaminya, serta Ibu Aulia Gurdi yang datang di saat hujan deras.

Dalam kopdaran akbar perdana di tahun 2012 ini, banyak membicarakan mengenai beberapa tema seperti yang sudah di posting oleh Bang Erik tanggal 20 Februari lalu.

Yang pertama tentu tentu saja acara silaturahmi antar Kawan Kompasianer, sejak Kompasianival di bulan Desember lalu kami jarang sekali berkumpul bersama lagi. Dan, kopdaran ini dimaksudkan untuk lebih merekatkan tali persaudaraan antar Kompasianer dimanapun berada, termasuk Mbak Sumarti yang baru saja tiba dari kota Pelaihari, Kalimantan Selatan.

Lalu, ada penggalangan buku bekas untuk disumbangkan kepada Saudara-saudara kita yang kurang mampu di beberapa daerah di Indonesia yang digagas oleh Bang Erik, melanjutkan program yang berlangsung sejak bulan November 2011. Dengan antusias, Bang Erik menerangkan bahwa program Gerakan Hibah Sejuta Buku, sangat bermanfaat untuk Saudara kita yang kurang mampu, seperti di Fakfak, Papua Barat. Bang Erik yang juga lihai menulis tentang teknologi dan masalah di dunia maya, mengemukakan bahwa sumbangan dari Kompasianer sejak November lalu hingga sekarang, telah disalurkan secara bertahap kepada pihak  yang membutuhkan.

Kemudian ada bedah buku dari Pak Julianto Simanjuntak, Kompasianer yang juga berprofesi sebagai Dosen dan Konselor ini telah sukses membuat tujuh buku, dengan dua diantaranya dihasilkan setelah bergabung di Kompasiana 4 Februari 2011 lalu.

Juga ada pembicaraan mengenai pembentukan komunitas Sharing & Connection yang digagas oleh Babeh Helmi, sang Jenderal kopdaran Kompasianer. Beliau mengajak kepada kawan Kompasianer terutama di Jabodetabek yang hadir dan juga sedang berhalangan untuk lebih aktif lagi di dunia nyata, seperti mengikuti acara Kopdaran atau sumbangan buku. Idenya adalah agar setiap ada acara yang di helat oleh blogger lain seperti Amprokan Blogger, On Off, Asean Blogger, ada perwakilan dari blog Kompasiana untuk berpartisipasi.

*    *    *

Selanjutnya adalah seperti biasa, yaitu saling berbagi pengalaman antara Kompasianer yang hadir, seperti Pak Julianto Simanjuntak yang menuturkan pengalamannya selama setahun bergabung di Kompasiana, sekaligus acara Kopdaran ini untuk memperingati ultah pertamanya menulis di media sosial ini. Pak JS, sebutan akrabnya mengatakan bahwa sejak ikutan menulis hingga sudah setahun lewat, beliau menjadikan hasil postingannya itu sebagai terapi diri untuk pribadi sekaligus diberikan kepada mahasiswa yang di didiknya. Tak lupa, beliau pun memberikan tips kepada kawan Kompasianer yang hadir, tentang kesuksesannya menjadi seorang penulis yang sudah menerbitkan lima belas buku.

Tetapi tidak semudah yang dibayangkan orang, karena sebagai penulis harus sabar, sabar dan sabar untuk dapat membuat sebuah buku, seperti yang diceritakannya beliau memulai sejak tahun 2003 dan baru menuai kesuksesan setelah melewati masa lima tahun yaitu di tahun 2008. Kenapa lama? Ujar kami menanyakan.

Pak JS menerangkan, untuk menjadi seorang penulis, yang sangat dibutuhkan bukanlah Hasil, melainkan sebuah Proses yang berliku panjang. Seperti saat ia mengejar-ngejar Pak Jakob Oetama, Presiden Komisaris Kelompok Kompas Gramedia untuk meminta komentar mengenai buku yang dibuatnya. Alhasil, dengan perjuangan berliku yang panjang, kini beliau sudah bisa membuat banyak buku dan membagikan pengalamannya kepada yang hadir.

Lalu ada Pak Dian Kelana, salah satu Kompasianer senior yang  juga berprofesi sebagai Fotografer, ikut menceritakan pengalamannya mulai dari masa awal bergabung di Kompasiana hingga sekarang telah beberapa tahun lamanya. Beliau menerangkan bahwa ilmu itu tidak hanya didapat melalui sekolah, melainkan juga bisa ditemui dimana saja asal kita mau berusaha.

Dari Om Jay (Wijaya Kusumah) yang juga berprofesi sebagai Guru juga turut mengemukakan pengalamannya sejak pertama kali mengenal blog hingga bergabung di media jurnalis warga, Kompasiana. Om Jay yang setahun kemarin sudah menerbitkan tiga buku, menerangkan bahwa menulis itu bisa dijadikan modal kelak sambil terus mengembangkan bakatnya di dunia tulis-menulis agar bisa eksis di dunia maya. Terbukti, sejak tahun 2008 lalu hingga kini, beliau telah membuat tujuh buku hasil menulis di Kompasiana dan beberapa blog yang dikelolanya.

Mengenai menulis di blog, ada Bang Herman Hasyim, sosok Kompasianer yang terkenal jeli dalam melihat pemberitaan di media massa maupun online.  Saya yang baru pertama kali bertemu dengannya sejak mengikuti beberapa Kopdaran sempat terperangah, karena tidak menyangka orangnya sangat kalem, pendiam juga agak malu-malu. Padahal kalau kita membaca hampir semua postingannya di Kompasiana, beliau terkenal dengan tulisan yang selalu menyentil, bahkan tak jarang membuat kuping merah yang membacanya.

Dengan kalem, Bang HH menerangkan bahwa menulis tidak mesti mengikuti pakem yang berlaku di media mainstream, tetapi juga harus nyata apa adanya. Seperti yang ia sering tuliskan dalam beberapa postingan mengenai kejadian beberapa waktu lalu, yang menuai pro dan kontra, seorang Kompasianer harus bisa menyikapinya dengan arif dan tidak berat sebelah.

Tidak ketinggalan, Bang Joko seorang Mahasiswa UI yang berasal dari Sampit, Kalimantan Tengah turut menceritakan pengalamannya. Beliau yang baru gabung di Kompasiana sejak September lalu, terus meningkatkan tulisannya terutama tentang daerahnya sendiri di Sampit, agar semua orang tahu bahwa di sana tidak seseram yang dibayangkan.

Banyak lagi cerita dari Kawan Kompasianer yang hadir dengan pengalamannya selama gabung di jurnalis warga ini, seperti Zuragan Qripik yang sama dengan Bang Herman Hasyim, walau tulisannya pedas seperti kripik namun aslinya seorang yang ramah dan rajin mengikuti kopdaran bersama Pak Arief. Juga Ibu Tytiek yang semangat mengikuti kopdaran ini meski harus bolak balik dari rumahnya di Ciputat untuk terlebih dahulu menghadiri resepsi Pernikahan Kawan Kompasianer Ibu Gustina Melliani di Bogor. Atau Ibu Aulia Gurdi, yang antusias datang dari rumahnya di Pasar Minggu walau harus terjebak macet sekalipun di jalan dan baru sampai sesaat menjelang acara berakhir.

Hingga tidak terasa, waktu jua yang harus memisahkan kami semua. Diiringi rinai hujan, kami akhirnya pamit untuk kembali ke rumah masing-masing setelah 6 jam kumpul bersama kawan Kompasianer lainnya, sambil membantu Bang Erik yang kepayahan membawa beberapa kardus berisi buku untuk dibawa ke Bogor.

Sampai jumpa di Kopdaran selanjutnya…

Disalin dari jurnalnya Choirul

Written by Hibah Buku

@HibahBuku | #HibahBuku adalah gerakan solidaritas pengumpulan buku lalu menyalurkannya kepada sadara-saudari kita di Nusantara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *