Alhamdulilah, alhamdulilah saya ditemukan dengan orang-orang yang baik. Teman yang baik, teman-teman yang baik, sahabat yang baik juga majikan yang sangat baik.

Tadi malam, saya meminta izin keluar menginap di rumah salah seorang teman karena ada teman-teman FLP (Forum Lingkar Pena) dari Jakarta. Seminggu sebelumnya, saya memang dapat inbox katanya akan ada kawan yang singgah ke Kuala Lumpur backpackeran tanggal 6-7. Dan rupanya, lebih cepat dari jadwal, hari kerja pula.

Teman-teman tersebut, Mbak Era, Mbak Ade dan Cayi. Mereka adalah tema-teman penulis juga seorang fotografer. Saat singgah di restoran cepat saji di Kuala Lumpur Sentral, kami membicarakan beberapa hal. Termasuk tawaran Mbak Era yang akan kembali datang ke Kuala Lumpur untuk mengadakan pelatihan penulisan tentunya dengan tindak lanjut yang nyata, yaitu sebentuk naskah buku.

Saya bilang, kalau tak banyak mempunyai teman di dunia nyata #halagh, kesian kamu, Naz. Yang akhirnya, kejujuran saya tidak banyak memiliki teman di dunia nyata itu membuat bercerita kalau saya dengan teman-teman di dunia maya ada sebuah komunitas. Saya cerita BHSB, saya cerita kalau kami teman-teman sedang mengumpulkan buku anak-anak. Dan tahukah teman, cerita Mbak Era itu mengalir deras, kalau beliau dengan teman-teman itu memang memiliki program menerbitkan buku anak-anak kemudian disebar secara gratis.

Duh Gusti, waktu itu mata saya langsung bling-bling cerah ceria. Nggak pake malu-malu saya langsung bilang, “Kalau kita minta bukunya boleh, Mbak?”

“Owh, boleh. Anaz kirim aja alamatnya.”Eh, serasa minum durian runtuh. Adem.

Alhamdulilah…

Kemudian lanjut ke kelas menulis, saya juga bilang dan tepatnya meminta supaya ada dari pihak Mbak Era mau mengajari kami, dan kami geret ke group untuk berdiskusi dunia fiksi. Dengan genre anak-anak tentu saja. Saya juga berkata, kalau kami-kami ini berharap kelak tak hanya mengumpulkan buku saja, tapi juga membuat buku untuk mereka. Dan, tahukah teman? Mbak Era kembali melanjutkan, “Kalau mau, sekalian saya hubungkan ke penerbit.”

Kalau tadi serasa minum durian runtuh, ini seperti disimbah air di padang pasir. Sejuk…

Sudah pukul sebelas malam, kami segera berkemas keluar dari restoran cepat saji. Di jalan kami masih bercerita, di bus kami banyak berbagi kata, kemudian saat sampai di rumah teman saya cerita-cerita masih tak ada hentinya. Bukan hanya cerita menulis, bukan hanya BHSB tapi juga Indonesia pada umumnya. Tapi sudah, lupakan. Saya tak akan membahasnya.

Sudah dini hari, kami masih berbincang tentang banyak hal. Sebelum terlelap pada lena bantal masing-masing, saya berucap kepada Mbak Era,

“Mbak Era, kami tidak punya uang untuk membayar kalau ada teman-teman yang mau mengajari kami untuk menulis.”

“Lho, tujuan kami bukan uang. Tapi bagaimana yang kami ajarkan itu membuahkan hasil. Bukan sekali pertemuan, setelah itu hilang begitu saja.”

Pada akhirnya, bukan lagi seperti minum air durian runtuh, tak juga seperti disimbah air di padang pasir tapi kedamaian. Yah, kedamaian sebelum tidur meski saya tak bisa tidur karena kebisingan lalu lintas yang tak jauh dari rumah teman saya.

Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Insya Allah…

Buat teman-teman yang serius ingin belajar nulis fiksi dengan genre anak-anak, mari kita berembug eh, berunding eh, sama saja :)

Diunggah dari gorup, ditulis oleh Anazkia

Terimakasih buat Ifendayu atas kesediannya kami jadikan markas, juga sarapan paginya, serta kopi terlalu manisnya yang membuat saya tak bisa memejam mata :)

Written by Hibah Buku

@HibahBuku | #HibahBuku adalah gerakan solidaritas pengumpulan buku lalu menyalurkannya kepada sadara-saudari kita di Nusantara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *