Seputar Blogger Hibah Sejuta Buku ini tertulis akibat pada 2011 yang lalu seorang sahabat maya (blogger dan kompasianer) bernama Mbak Anazkia memperkenalkan saya pada sebuah grup. Nama grup tersebut adalah BHSB, singkatan dari Blogger Hibah Sejuta Buku, kumpulan para blogger yang senang melakukan sesuatu (meskipun kecil) untuk pendidikan yang lebih baik.

Terus terang saja, awalnya saya masih bingung dengan paparan Mbak Anazkia (tentang seputar BHSB), dan itu berlangsung agak lama. Karena saya kurang tahu dan punya naluri ingin tahu, maka saya membongkar arsip tulisan Mbak Anazkia (dan beberapa teman) yang menuliskan seputar BHSB.

Sejarah Seputar Blogger Hibah Sejuta Buku

Berikut adalah sekelumit tulisan dari Mbak Anazkia yang berhasil menjabarkan tentang sejarah singkat Blogger Hibah Sejuta Buku.

Tahun 2009, ketika saya mulai mengakrabi dunia blog ada sebuah gerakan sosial yang dicetuskan oleh salah seorang teman saya (Prima Wahyudi) di Pekanbaru, Blogger Hibah Sejuta Buku. Gerakan sosial ini online dan disebarkan melalui dunia maya dengan menggunakan mediasi blog. Saat itu yang menjadi tujuan adalah sebuah tempat di kepulauan Meranti-Riau. Tapi saat itu pengiriman buku hanya berpusat di Pekanbaru. Alhamdulilah, setelah melewati waktu yang panjang, ratusan buku bisa dikirimkan oleh teman-teman blogger di Pekanbaru.

Di blog milik Bang Attayaya, saya semakin mengerti tentang sejarah awal BHSB. Diawali dari kisah seorang sahabat bernama Prima Wahyudi (alias Namlimo alias Datuk bertuah). Dia adalah penggagas awal program BHSB ini. Itu semua karena Prima Wahyudi mempunyai pengalaman KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kelurahan Tanjung Samak. Tanjung Samak ada di Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Pemilihan Tanjung Samak sebagai tempat yang menerima bantuan buku-buku tersebut karena menurut Prima Wahyudi, masyarakat di sana sangat kesulitan mendapatkan informasi melalui bahan-bahan bacaan seperti buku.

Gagasan Prima Wahyudi untuk mencerahkan Tanjung Samak, mendapat respon dari Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru. Gagasan sederhana ini akhirnya menjadi sebuah konsep, yaitu program pengumpulan buku, terutama untuk konsumsi adik-adik usia sekolah dasar.

Pengiriman program hibah sejuta buku ke Kelurahan Tanjung Samak akhirnya terlaksana pada tanggal 10 hingga 12 Februari 2011 (setelah melalui masa yang panjang untuk mengumpulkan buku). Pengiriman ini dilakukan oleh empat orang blogger anggota Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru, yaitu Dian Aismana, Prima Wahyudi, Ridho Faldana dan M Rizqi Khaizir.

Disepakati, kegiatan di atas adalah program Blogger Hibah Sejuta Buku Fase Pertama.

Blogger Hibah Sejuta Buku Fase Kedua

Pelaksanaan Blogger Hibah Sejuta Buku tahap kedua, digerakkan oleh Mbak Anazkia sebagai salah seorang anggota Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru. Gerakan tahap kedua ini digerakkan dan disebarkan melalui berbagai media internet.

Tempat yang dibidik sebagai penerima bantuan buku adalah di pedalaman Papua, tepatnya di sebuah SD di Fakfak Utara, Papua Barat. Kenapa harus Papua? Menurut Mbak Anazkia, alasannya sederhana saja. Karena di sini (SD yang dimaksud) masih sangat minim fasilitas, terutama fasilitas buku bacaan.Fase kedua ini dilaksanakan pada Oktober hingga Desember 2011.

Blogger Hibah Sejuta Buku Fase Ketiga

Kali ini tujuannya adalah sebuah tempat bernama Manusela. Dilakukan sejak bulan Februari 2012 hingga bulan April 2012. Manusela sendiri adalah nama sebuah desa kecil yang berada di ketinggian 761 mdpl. Desa ini berada di antara 2 gunung, gunung Morokele dan gunung Nasalala. Gunung yang lain adalah Gunung Binaiya. Bila ada seorang pejalan yang hendak menuju Gunung Binaiya, maka Manusela adalah desa persinggahan terakhir. Di sini juga ada sebuah Taman Nasional bernama Taman Nasional Manusela.

Di Manusela terdapat sebuah SD dengan kondisi bangunan fisik yang sederhana, dengan fasilitas yang minim. Sejak enam tahun terakhir hanya ada seorang guru pengajar bernama Mama Yuli. Beliau mengajar sendirian enam sekat (kelas satu hingga kelas enam) dengan cara berpindah pindah. Mama Yuli bukanlah seorang pegawai negeri. Beliau hanya menjalankan tugas mengajar atas nama hati nurani. Karena jika tak ada seorangpun yang mengajar di sana, maka sekolah tersebut akan tutup dengan sendirinya, dan generasi penerus akan kesulitan menjadi pandai / tercerahkan.

Mengenai Manusela, saya pernah menuliskannya di sebuah tulisan berjudul Tribute to Manusela.

Blogger Hibah Sejuta Buku Fase Keempat

Nah, sekarang ini Blogger Hibah Sejuta Buku sedang ada di proses / fase keempat. Konsepnya masih sama, mengumpulkan buku secara kolektif, untuk kemudian disalurkan pada mereka yang membutuhkan. Kali ini yang dibidik adalah tiga buah sekolah di Aceh. Ini dia ketiga sekolah tersebut.

1. MTs Dayah Nurul Iman

2. Madrasah Ibtidaiyah Swasta Darussalam

3. Sekolah Dasar Negeri Sijuk

Cerita selengkapnya tentang ketiga kondisi sekolah di atas telah dipaparkan oleh Mbak Anazkia di tulisannya berjudul Blogger Hibah Sejuta Buku Fase Keempat [Aceh] .

Cara Support  Program Blogger Hibah Sejuta Buku

Sama seperti program sebelumnya, Blogger Hibah Sejuta Buku kali ini juga memiliki posko penerimaan bantuan berupa buku (atau fasilitas pendukung pendidikan) di beberapa tempat.

***

Disalin dari jurnal Rz Hakim

Written by Hibah Buku

@HibahBuku | #HibahBuku adalah gerakan solidaritas pengumpulan buku lalu menyalurkannya kepada sadara-saudari kita di Nusantara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *