Tadinya saya tidak kenal dengan sebuah tempat bernama Manusela. Perkenalan pertama, saya dapat dari tulisan seorang kompasianer kreatif yaitu Mbak Anazkia.

Dari yang tadinya hanya mengenal nama, sedikit demi sedikit berubah menjadi penasaran. Karena bermodal rasa penasaran itulah, saya menambah pengetahuan saya tentang Manusela dari tulisan tulisan yang lain (yang ada di link tulisan Mbak Anazkia).

Teman-teman dengan buku yang diperolehi

Teman-teman dengan buku yang diperolehi

Ketika googling gambar tentang Manusela, saya juga mendapati tulisan (dan foto) milik Oca, salah seorang peserta ACI. Dan seakan akan saya semakin mengenal Manusela, sebuah desa di Pulau Seram Utara, Maluku. Di paragraf pertama, Oca menulis seperti berikut ini.

Manusela, desa kecil yang berada di ketinggian 761 mdpl menjadi camp ke 4 kami selama mendaki Gunung Binaiya. Desa ini berada di antara 2 gunung, gunung Morokele dan gunung Nasalala. Di desa ini kami benar-benar merasakan bagaimana suasana di desa yang sebenarnya. Warga yang ramah, alam yang asri dan indah serasa menghipnotis kami untuk berlama-lama tinggal disana.

Sekarang saya akan mengajak anda untuk kembali menengok tulisan Anazkia. Dalam paparannya, dia menceritakan tentang sebuah komunitas maya bernama Blogger Hibah Sejuta Buku. Komunitas ini bergerak di bidang pengadaan dan pengumpulan buku buku untuk siswa SD yang dirasa membutuhkan literasi (baru maupun bekas).

Begitulah cerita awal tentang perkenalan saya dengan Manusela. Sengaja saya singkat karena memang sudah banyak rekan yang telah menuliskan tema serupa.

Nah, kali ini saya akan bercerita tentang sebuah acara kecil yang diselenggarakan di Jember (Jawa Timur) pada 21 Maret kemarin, bertajuk Tribute to Manusela. Acara ini digerakkan oleh kawan kawan Tamasya Band (sebuah band indie di Jember yang lirik lirik lagunya berpihak pada kelestarian alam).

Tribute to Manusela

Gagasannya sederhana, hanya memperpanjang gagasan yang sudah ada. Yaitu gagasan dari kawan kawan Blogger Hibah Sejuta Buku dan kawan kawan blogger Maluku sendiri. Konsepnya juga sederhana, membuat sebuah acara musik akustik (semacam konser amal) di sebuah tempat bernama Kedai Gubug Jember, dan mengundang berbagai komunitas indie yang ada di kota kecil Jember. Dengan harapan,  audiens yang hadir membawa buku bacaan dan paket untuk konsumsi adik adik usia Sekolah Dasar, dan atau menyisakan sedikit rupiah dari kantong mereka.

Gagasan dan konsep yang serba sederhana itu disambut hangat oleh kawan kawan Jember, teristimewa kawan kawan dari komunitas indie, baik dari kawan kawan kesenian (musik) maupun dari Pencinta Alam. Alhasil, pada 21 Maret 2012 acara tersebut sukses digelar.

Dimulai pada pukul 19.00 WIB hingga selesai sekitar pukul 23.00 WIB. Acara Tribute to Manusela berhasil mengumpulkan beberapa tumpuk buku dan beberapa uang dan sesuai rencana, akan dikirimkan pada tanggal 26 Maret 2012. Maaf saya belum bisa memastikan jumlah buku dan uang secara rinci. Perkiraannya, buku kita dapat sekitar lima puluh kilo lebih. Sedangkan uangnya, lebih dari cukup untuk menutup biaya pengiriman buku. Bila ada sisa uang, akan segera kami kirimkan ke kawan kawan yang bergerak untuk Manusela.

Di dalam draft acara Tribute to Manusela, rencananya pengisi acara hanya ada dua band yaitu dari Tamasya Band sendiri, dan dibarengi oleh The Penkors (sebuah band beraliran country yang besar di Fakultas sastra Universitas Jember). Namun karena acara digelar tepat waktu, maka menjadikan banyak jeda dan MC membuat planing B. Apalagi kalau bukan memberi kesempatan audiens untuk turut tampil menyumbangkan suara dan kreatifitasnya.

Betapa kagetnya ketika akhirnya audiens yang tampil adalah musisi musisi indie Jember yang berkelas. Ada Adit vokalis The Rocket Band, ada The Baja Hitam (dengan formasi yang tidak sempurna), Ada Hylda Band, Yongki Bassist and Wulan, Ayun, kawan kawan FINGER (Kolektife Indie Group Jember), Tita Dewan Kesenian Kampus, dan Eric Orange Juice.

Acara kecil dengan konsep yang sederhana, tapi Alhamdulillah berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Hangat lagi berkesan.

Sebagai ucapan terima kasih, seharusnya akan ada banyak nama nama yang harus saya sebut. Tapi saya yakin mereka melakukan ini atas dasar hati, bukan hanya untuk sekedar disebut. Oleh sebab itulah, mewakili keluarga tamasya band (dan kawan kawan indie Jember), saya ucapkan terima kasih pada semua orang yang telah memperkenalkan kami pada Manusela dan semua orang (baik pencetus, penggerak, volunteer dimanapun berada) yang bergerak menuju gagasan kemanusiaan berupa penggalangan buku.

Selalu ada doa dan cinta untuk orang orang seperti anda.

Sebagai penutup tulisan, akan saya sertakan juga tiga foto acara Tribute to Manusela pada 21 Maret 2012. Salam Lestari…!

___________________

Dikutip dari RZ Hakim

Written by Hibah Buku

@HibahBuku | #HibahBuku adalah gerakan solidaritas pengumpulan buku lalu menyalurkannya kepada sadara-saudari kita di Nusantara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *