Padahal aku hanya ingin menuliskan kisah semalam. Tentang Tribute to Manusela, tentang Kedai Gubug Jember, tentang kawan lawasku Yongki, Didik dan beberapa lagi. Tentang lagu yang Tita, Maltha dan Ayun nyanyikan, tentang FINGER, tentang Aden, tentang The Baja Hitam, tentang Adit The Rocket, tentang Lozz, Coro, Kelor dan beberapa blogger Jember.

Masih banyak ‘tentang tentang’ yang lainnya. Tentang buku sumbangan yang semakin detik semakin menumpuk, tentang kotak kaca (seperti aquarium) yang sengaja disediakan oleh Dedy untuk memfasilitasi sumbangan recehan, tentang Rossi yang datang nyumbang lalu pulang, juga tentang lagu yang tamasya nyanyikan.

Tribute to manusela
Tribute to manusela

Ya, padahal hanya tentang itu, mengapa rasanya begitu sulit?

Aku ingin menceritakan nama nama manusia di sekitarku yang tak kau kenal, seperti aku menceritakan namamu pada mereka. Sebenarnya bukan hanya namamu. Ada kusebut juga nama Bunda Yati, Bunda Lily, Om Aldy, Kang Citro, seputar Blogcamp, Dija, Arka-nya Kang Yayat, Alvin dan Pascal, Nandini, Kakaakin, Mama Osar, Mama Ni, Mama Nia, Tante Monda, Mbak Imelda, Bibi Titi Teliti, Mbak Nchie Hanie, Bli Budi Kuadrat, dan entah siapa lagi aku lupa. Tahukah kau apa reaksi mereka? Mereka mendengarkan celotehku dengan mata yang berbinar.

Mas Hakim di panggung

Manakala MC memanggil dan mengajakku berbincang seputar Manusela, aku kembali bercerita tentang nama nama. Namamu, namamu dan namamu, itu yang sering aku ulang. Sesekali menyebut nama Bang Attayaya. Sesekali menyinggung tentang Group Blogger Hibah Sejuta Buku. Sesekali memperbincangkan kehangatan warga warung blogger. Hampir semua yang kusebut namanya tidak mereka kenal. Hanya orang orang seperti Lozz dan Coro saja yang mengerti nama nama itu. Tapi kau boleh percaya boleh tidak, mereka mengangkat kedua telapak tangan ke udara, lalu menepuk nepukkannya beberapa kali hingga menimbulkan suara gemuruh.

Lebih aneh lagi, saat aku menceritakan nama orang yang tidak aku kenal seperti Mama Yuli (Guru tunggal di SD Manusela) dan Rosa Dahlia (blogger yang dua lembar fotonya tentang Manusela aku gunakan di blog ini), mata mereka berbinar, kedua telapak tangan mereka berdansa di udara.

Aku benar benar kesulitan meski hanya sekedar memulai menuliskannya. Entah, mungkin karena terlalu banyak yang ingin aku ceritakan.

Anazkia, semisal kau ada di sini.. semisal semalam kau duduk di dekatku dan Hana, mungkin kau akan berkaca kaca, bahagia, dan sulit untuk mengisahkannya kembali.

ala MC memanggil dan mengajakku berbincang seputar Manusela, aku kembali bercerita tentang nama nama. Namamu, namamu dan namamu, itu yang sering aku ulang. Sesekali menyebut nama Bang Attayaya. Sesekali menyinggung tentang Group Blogger Hibah Sejuta Buku. Sesekali memperbincangkan kehangatan warga warung blogger. Hampir semua yang kusebut namanya tidak mereka kenal. Hanya orang orang seperti Lozz dan Coro saja yang mengerti nama nama itu. Tapi kau boleh percaya boleh tidak, mereka mengangkat kedua telapak tangan ke udara, lalu menepuk nepukkannya beberapa kali hingga menimbulkan suara gemuruh.

Lebih aneh lagi, saat aku menceritakan nama orang yang tidak aku kenal seperti Mama Yuli (Guru tunggal di SD Manusela) dan Rosa Dahlia (blogger yang dua lembar fotonya tentang Manusela aku gunakan di blog ini), mata mereka berbinar, kedua telapak tangan mereka berdansa di udara.

Aku benar benar kesulitan meski hanya sekedar memulai menuliskannya. Entah, mungkin karena terlalu banyak yang ingin aku ceritakan.

Anazkia, semisal kau ada di sini.. semisal semalam kau duduk di dekatku dan Hana, mungkin kau akan berkaca kaca, bahagia, dan sulit untuk mengisahkannya kembali.

______________________

Dikutip dari acacicu.com

Written by Hibah Buku

@HibahBuku | #HibahBuku adalah gerakan solidaritas pengumpulan buku lalu menyalurkannya kepada sadara-saudari kita di Nusantara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *